Jumat, 10 Januari 2020

BIDADARI ITU KUSEBUT MAMA

Dik, kau tau bidadari yang paling cantik didunia? Apakah dia Cinderella? Aisyah? Jamilah kah namanya? Princes syalala? Atau siapa? Tebak-tebakan pun dimulai. 

Mengingat referensi yang pernah saya baca di berbagai situs bahkan buku-buku, setiap wanita akan menjadi bidadari yang paling cantik bagi ayah, suami, dan anak-anaknya. Nah jawaban dari pertanyaan itu adalah bidadari itu adalah anak dari seorang ayah, istri dari sang suami, dan ibu dari anak-anaknya. Siapapun namanya, apapun sebutannya, dia lah bidadari yang paling cantik.

Nah, sahabat pena, sahabat penggemar literasi. Kali ini, aku ingin membagikan cerita tentang bidadariku yang paling cantik sejagat raya. Wanita ini adalah bidadari untuk armarhum kakek dan ayahku, untuk Abang dan aku si putri yang manja. 

Bagiku bidadari ini sangat berharga, setiap hari, jam, menit, detik. Semua tingkah laku, jerih payah, gerak-geriknya, bahkan semuanya sangat berharga.

Sejak kecil, bahkan sebelum kecil. Dalam kandungan aku sudah mulai merepotkannya, ia melahirkanku dengan mempertaruhkan nyawa, membesarkanku dengan segala rintangan. Berapa pil obat sudah dikonsumsi demi membahagiakanku? Jawabannya tak terhingga. 

Wanita ini sungguh luar biasa.
masa kecilku, menuliskan sejarah bahwa aku adalah gadis kecil yang manja, nakal, dan rewel yang tak kunjung hilang. Aku dikenal sebagai gadis yang lasak, dan semua keinginanku harus bisa kucapai. Ego bukan? Iyaa begitulah masa kecilku. Tapi bidadari ini mampu mengubah segalanya.

Mama, sebutan untuk bidadari nan cantik jelita. Parasnya cantik, kulitnya putih, senyumnya manis, sifatnya anggun, ilmunya segudang. Itulah gambaran dari kehidupan bidadariku.  Mama ku kecil merupakan panutanku, ia merantau mengejar cita-cita, dengan sepeda bututnya mengelilingi kota hingga toga dapat dikenakannya dihari bahagia, dan sekarang aku bisa mendapatkan “madrasatul ula” padanya. 
Pengetahuan, pelajaran, dan pengalaman setiap hari kudapatkan darinya. Tidak ada jumlah sks, tidak ada bayaran spp tiap semesteran. Semuanya ikhlas dari sang bidadari yang berhati mulia.

Kini, bidadari ini berperan dua. Sejak ayah meninggal, mama lah yang menggantikan posisi ayah dalam kehidupan kami. Keberanian dan semangatnya semakin tinggi, bidadari ini takpernah menghilangkan rasa bahagia dalam diri kami sedikit pun. 

Bidadari ini sungguh berharga, berlian permata tak sama berharga dengan beliau, ini sungguh-dan sungguh luar biasa.
Semangat yang membara hadir setelah satu kata yang terucap dari mulutnya. 

Mulus tangannya, yang membuatku teringat akan masakan yang dihidangkan setiap harinya di meja makan. Sungguh ini terasa nikmat. Gizi yang diatur dan diberikan olehnya mengantarkan aku akan kecerdasan yang ku temui pada bidang-bidang yang ku anggap adalah bidangku. 

Harapanku, cita-citaku, mimpi-mimpi yang kurajut akan tercapai dengan tulusnya doa yang ia panjatkan siang dan malam.

Bidadari yang mulia, setiap kata yang kutulis, mengandung seribu makna. Tak semua kebaikanmu, ketulusanmu yang dapat ku curahkan dalam goresan tinta. Karna sungguh banyak tinta yang kubutuhkan untuk menggoreskan semua keindahan. 

Ku harap, kelak aku akan menjadi bidadari sepertimu, untuk alhamarhum ayah, suami dan anak-anakku kelak. 

Terimakasih mama, yang berperan sebagai semua jenis pekerjaan dalam hidupku dengan tulus dan bahagia.

HADIAH DI PAGI HARI

Kali ini kumelihat mentari terbit dengan suasana yang berbeda, mendengar dan melihat sesuatu yang tidak menyenangkan di pagi hari. Kata orang, kalau pagi sudah tak indah apalagi siang, sore, dan malamnya. Ku tak percaya, ku hanya menganggapnya sekedar omongan biasa. 

Rasa gundah, gelisah terus menghampiri, jangan tanyakan air mata, tak berhenti mengalir membasahi bantal ditempat tidurku. Aku tau semuanya adalah hadiah.
Hadiah kok buat sedih? Tanyaku dalam hati.

Kilas balik sedikit, perihal hadiah. Kata ustazah hadiah itu sama seperti takdir, ada takdir yang baik yang menyenangkan, dan ada takdir yang buruk yang menyedihkan. Namun bukan berarti setiap usaha kita tidak ada hasilnya.  

Paginya mendapat hadiah yang didalamnya ada kabar buruk, namun selang berapa jam mendapatkan hadiah yang didalamnya ada kabar baik. Seperti roda berputar kan? Inilah kehidupan.

Sempat sedih, nangis, kecewa?? 
Wajar. Kamu lelah, kamu capek, usahamu sudah maksimal. Namun keberuntungan belum sepenuhnya berpihak padamu.

Jangan terus berlarut-larut dalam hal ini. Lupakan hadiah yang membuatmu sedih, pandang dan rasakan hadiah yang membuatmu bahagia. 

Yakinkanlah omongan orang yang katanya kejadian di pagi hari akan berlanjut sampai siang,sore, dan malam hari itu tidak sepenuhnya benar. Ada kalanya itu benar dan ada kalanya juga itu berbeda dengan asumsi itu.

Roda berputar, bola terus mengelinding tanpa henti, jika ia pantas menjadi hak milik mu maka ia akan tertuju padamu. Percayalah, percayalah, dan percayalah hadiah buruk hari ini akan menjadi koinmu menuju hadiah-hadiah yang luar bisa di episode berikutnya.

Terus melangkah, gapai hadiah itu.

DI RUMAH AJA DULU

Di rumah aja, di rumah aja, di rumah aja. Caption dan hashtag tersebut tersebar dimana-mana.  Sedikit mengupas keluhan remaja, dirum...